tautekno.id – Dampak krisis chip global kini nyata dirasakan konsume di Indonesia. Fenomena kelangkaan komponen semikonduktor ini memicu lonjakan harga memori (RAM). Tidak tanggung-tanggung, kenaikan harga di tingkat ritel dilaporkan terjadi berkali-kali dalam kurun waktu yang sangat singkat.
Harga Terus Meningkat
Melansir dari CNBC Indonesia, harga modul memori tipe DDR4 dan DDR5 di pusat perbelanjaan elektronik ITC Kuningan, Jakarta naik sejak akhir tahun lalu. Sejumlah pedagang mengaku kewalahan menghadapi kenaikan harga yang terjadi hampir setiap minggu.
Hasan, salah satu pemilik gerai komponen komputer, mengungkapkan bahwa dalam satu bulan, harga RAM bisa mengalami penyesuaian hingga empat kali. Perubahan harga yang sangat dinamis ini membuat pedagang sulit menetapkan banderol tetap bagi pelanggan.
Dalam seminggu kenaikan bisa sampai tiga sampai empat kali. Kenaikan bisa mencapai Rp 400 ribu sampai Rp 600 ribu, bahkan total kenaikan mencapai 100 persen atau sekitar Rp 1 jutaan.
Saat ini, RAM DDR5 kapasitas 32GB dibanderol di kisaran Rp 7 juta hingga Rp 8 juta. Sementara itu, varian 16GB yang sebelumnya hanya di angka Rp 1 jutaan, kini melonjak drastis hingga melampaui Rp 2 juta.
Senada dengan Hasan, penjual lainnya menyebutkan bahwa meski harga melambung tinggi, permintaan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Konsumen bergantung pada perangkat komputer untuk bekerja terpaksa merogoh kocek lebih dalam.
Efek AI
Firma riset pasar IDC memberikan penjelasan di balik harga ini. Menurut Analis IDC, Vanessa, krisis ini dipicu oleh pergeseran prioritas produsen chip dunia. Pembangunan pusat data (data center) berbasis Kecerdasan Buatan (AI) secara masif telah menyedot kapasitas produksi global.
Beberapa hal yang menyebabkan krisis meliputi:
- Prioritas Chip AI: Produsen utama memori mengalihkan investasi dan kapasitas produksi ke segmen hyperscale dan chip AI, sehingga produksi chip konvensional untuk laptop dan ponsel terpinggirkan.
- Pengurangan Stok DDR4: Manufaktur memori kelas bawah seperti DDR4 terus dikurangi secara sengaja.
- Transisi Belum Matang: Meski industri mulai beralih ke DDR5, pasokan tetap diprioritaskan untuk kebutuhan korporasi besar ketimbang pasar konsumen ritel.
- Permintaan Otomotif: Pertumbuhan mobil listrik (EV) yang pesat menambah antrean permintaan chip global.
Kondisi pasar diperkirakan belum akan membaik dalam waktu dekat. IDC memproyeksikan kesenjangan antara pasokan dan permintaan akan mencapai puncaknya pada semester I 2026. Meskipun ada kemungkinan kondisi sedikit mereda pada semester II, harga diprediksi akan tetap bertahan di level tinggi setidaknya hingga awal tahun 2027.
Kenaikan harga ini tidak hanya berhenti di komponen baru. Pasar perangkat bekas (second-hand) baik untuk smartphone maupun PC diperkirakan akan ikut terkerek naik. Ketika harga perangkat baru tidak lagi terjangkau, konsumen akan beralih ke pasar bekas, yang pada akhirnya akan meningkatkan permintaan dan menaikkan nilai jual barang-barang lama tersebut.
(amd)
