Waduh! Jangan Pernah Suruh ChatGPT Lakukan 5 Hal Ini

Jangan Sembarangan, 5 Hal Ini Wajib Dihindari Saat Menggunakan ChatGPT

foto: ChatGPT (ZDNet)

tautekno.id – Semenjak diluncurkan oleh OpenAI, ChatGPT menjelma menjadi asisten digital yang diandalkan jutaan orang. Bot cerdas berbasis Artificial Intelligence ini sanggup memangkas waktu kerja, mulai dari mengolah teks, merangkum dokumen tebal, menyusun kode pemrograman, hingga mengolah gambar. Sayangnya, kepraktisan ini kerap membuat sebagian pengguna terlena dan menyerahkan seluruh jenis tugas kepada AI.

Namun, ChatGPT tetaplah program komputer yang memiliki keterbatasan. Para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada chatbot ini, terutama untuk hal-hal yang membutuhkan keakuratan tinggi, keahlian profesional, atau kerahasiaan data.

Lantas, apa saja pekerjaan yang sebaiknya tidak diserahkan kepada ChatGPT? Berikut lima di antaranya:

1. Nasihat dan Analisis Hukum

ChatGPT cukup lihai menjelaskan istilah hukum rumit agar lebih mudah dipahami. Namun, menjadikannya penasihat hukum adalah langkah berisiko tinggi. AI memiliki kecenderungan mengalami halusinasi atau kondisi di mana sistem menyajikan informasi fiktif yang terdengar sangat meyakinkan.

Data yang dihimpun peneliti hukum Damien Charlotin menunjukkan ada lebih dari 2.000 perkara di berbagai negara yang bermasalah akibat penggunaan ChatGPT. Tak jarang, AI mengutip pasal, argumen, hingga putusan pengadilan yang sebenarnya tidak pernah ada.

2. Konseling Kesehatan Mental

Kehadiran ChatGPT yang selalu siap merespons kapan saja membuat sebagian orang menjadikannya tempat curhat alternatif. Walau begitu, AI bukanlah pengganti psikolog atau psikiater.

Chatbot ini bekerja murni berdasarkan input data dari pengguna. Responsnya yang terdengar perhatian tidak berarti ia memahami kondisi emosional pengguna secara mendalam. Bahayanya, ChatGPT cenderung membenarkan atau menyetujui pemikiran penggunanya. Dalam konteks kesehatan mental, pola respons seperti ini berisiko memperkuat pola pikir keliru yang berpotensi memperburuk kondisi psikologis seseorang.

foto: ChatGPT
foto: ChatGPT

3. Mengolah Dokumen Rahasia Perusahaan

Keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan secara cepat sering kali membuat karyawan tergiur menyalin dokumen perusahaan ke ChatGPT untuk dirangkum. Padahal, dokumen internal biasanya memuat data krusial, mulai dari kontrak bisnis, data pelanggan, hingga laporan keuangan tertutup.

Memasukkan data rahasia ke dalam sistem pihak ketiga berisiko melanggar perjanjian kerahasiaan (NDA) dan membuka celah kebocoran informasi. Sebelum mengunggah berkas apa pun, pastikan tidak ada data sensitif perusahaan yang ikut terserap oleh sistem AI.

4. Diagnosis Medis dan Saran Pengobatan

Menjadikan ChatGPT sebagai dokter pribadi adalah tindakan yang sangat berbahaya. AI tidak dapat melakukan pemeriksaan fisik maupun melihat rekam medis seseorang secara menyeluruh.

Kesalahan dalam menyerap saran medis dari AI bisa berakibat fatal. Salah satu contoh kasus terjadi pada seorang pria lansia yang berniat mengurangi kadar klorida berdasarkan saran chatbot. Tanpa sadar, ia mengganti garam dapur dengan sodium bromide hingga akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit akibat keracunan. Saat tubuh terasa kurang sehat, pemeriksaan langsung oleh tenaga medis profesional tetap wajib diutamakan.

5. Membagikan Informasi Pribadi 

Informasi pribadi seperti username, password, nomor identitas (NIK), nomor paspor, hingga data rekening bank pantang dimasukkan ke dalam percakapan AI.

Masalahnya, riwayat percakapan tidak sepenuhnya kebal dari ancaman peretasan atau celah keamanan. Media AS Fast Company bahkan pernah menemukan sekitar 4.500 riwayat percakapan pengguna ChatGPT yang sempat terindeks dan muncul di Google. Menjaga rahasia data pribadi tetap menjadi benteng pertahanan terbaik dalam menjaga keamanan diri di dunia digital.

(aa)

Exit mobile version