tautekno.id — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini semakin melejit. Sejumlah nama seperti OpenAI, Google, xAI, Anthropic, hingga Alibaba terus berlomba-lomba untuk mengoptimalkan kemampuannya. Fokus mereka kini bergeser pada pembuktian seberapa cerdas sistem AI dalam menyelesaikan tugas-tugas rumit layaknya manusia.
Menariknya, kecerdasan teknologi ini sekarang bisa diukur menggunakan standar kompetensi manusia, yaitu tes IQ. Berdasarkan laporan pengujian terbaru dari lembaga pemantau AI dunia, TrackingAI, menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Lantas AI manakah yang paling pintar?
AI Terpintar
Saat ini, gelar AI paling pintar di dunia dipegang oleh dua model teratas, yaitu Grok-4.20 Expert Mode (Vision) buatan xAI milik Elon Musk dan OpenAI GPT 5.4 Pro (Vision). Keduanya sukses mencetak skor IQ fantastis sebesar 145.
Sebagai pembanding, rata-rata skor IQ manusia normal berada di angka 100. Seseorang baru dikategorikan jenius jika menyentuh skor 130 ke atas. Hasil ini membuktikan bahwa kemampuan penalaran model AI teratas saat ini sudah jauh melompati rata-rata kemampuan kognitif manusia dalam hal pemecahan pola visual.

Daftar 10 Model AI dengan Skor IQ Tertinggi (Mensa Norway – April 2026):
- xAI Grok-4.20 Expert Mode (Vision) — IQ 145
- OpenAI GPT 5.4 Pro (Vision) — IQ 145
- Google Gemini 3.1 Pro Preview (Vision) — IQ 141
- OpenAI GPT 5.4 Thinking (Vision) — IQ 139
- OpenAI GPT 5.3 — IQ 136
- xAI Grok-4.20 Expert Mode — IQ 133
- OpenAI GPT 5.4 Thinking — IQ 133
- Meta AI Muse Spark — IQ 133
- Google Gemini 3.1 Pro Preview — IQ 132
- Alibaba Qwen 3.5 — IQ 130
Di luar posisi sepuluh besar, Claude 4.6 Opus dari Anthropic meraih skor stabil di angka 130, disusul oleh DeepSeek R1 dengan skor 112, sementara mesin pencari pintar Perplexity berada di posisi bawah dengan skor 97.
Metode Uji
Metodologi yang digunakan oleh TrackingAI diadopsi langsung dari platform resmi Mensa Norwegia. Jenis tes ini berfokus pada kemampuan penalaran non-verbal lewat 35 soal pengenalan pola visual (pattern recognition). Di sini, peserta harus menganalisis hubungan logis antara berbagai bentuk geometris, gambar, serta simbol untuk menemukan jawaban paling tepat.
Dalam proses pengujian terhadap total 26 model AI, TrackingAI membagi subjek ke dalam dua kategori. Model yang memiliki fitur pemrosesan visual (vision model) diberikan dokumen gambar asli yang sama persis seperti yang dilihat mata manusia. Sebaliknya, model berbasis teks (non-vision) diberikan deskripsi tertulis yang mendetail mengenai bentuk grafis di dalam soal tersebut.
Model yang mampu mengenali visual secara langsung konsisten mencetak skor yang jauh lebih tinggi daripada model yang hanya mengandalkan interpretasi teks. Demi menjaga validitas data, jika sebuah model sempat menolak memberikan respons, sistem akan mengulang pertanyaan yang sama hingga maksimal 10 kali percobaan sebelum mengambil keputusan akhir.
Sebagai catatan, kemampuan menyelesaikan teka-teki logika gambar tidak mencerminkan efektivitas performa AI di dunia nyata. Tes IQ ini sama sekali tidak menguji aspek penting lain seperti keahlian menulis kode pemrograman (coding), tingkat akurasi data, kreativitas, maupun standar keamanan sistem.
(amd)
















